Tampilkan postingan dengan label Akuntansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akuntansi. Tampilkan semua postingan

Spesialisasi Akuntansi Keuangan Vs Akuntansi Manajemen

Spesialisasi Akuntansi Keuangan Vs Akuntansi Manajemen

Di bangku sekolah—mulai dari SMA/SMK hingga perguruan tinggi—diajari keduanya. Namun begitu memasuki dunia kerja anda disuguhi pilihan spesialisasi antara “Akuntansi Keuangan” (Financial Accounting) atau “Akuntansi Managemen” (Management Accounting). Pilih mana?
Misalnya:
  • Jika anda ingin menjadi seorang partner di sebuah Kantor Akuntan Publik, sudah pasti anda harus terspesialisasi ke akuntansi keuangan; atau
  • Jika anda ingin menjadi seorang direktur keuangan di perusahaan mau tidak mau anda akan berhadapan dengan akuntansi manajemen disamping akuntansi keuangan; dan
  • Lain sebagainya.
Contoh di atas kebetulan keduanya sudah posisi puncak (top position); siapa yang tidak ingin jadi direktur atau partner? Masalahnya, tidak ada orang yang tiba-tiba saja berada di posisi puncak; semua mulai dari bawah, menangani pekerjaan-pekerjaan teknis—istilahnya “the dirty works”. Di wilayah “dirty works” ini, mau tidak mau, suka tak suka, pasti terspesialisasi.
Yang perlu anda pikirkan mungkin, seperti apa sih tipikal pekerjaan dari masing-masing jenis akuntansi itu? Apakah cocok dengan anda?
Itulah pokok bahasan dalam artikel ini. Setelah melakukan perbandingan dan analisa sederhana, seperti biasanya, saya akan menyertakan rekomendasi di akhir tulisan yang mudah-mudahan bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan spesialisasi antara akuntansi keuangan atau akuntansi manajemen.
Namun sebelum itu, kita lihat dulu yang satu ini…

Miskonsepsi Tentang Jenis Skill Akuntansi Yang Dibutuhkan

Ada anggapan yang menyebutkan bahwa semua akuntan yang bekerja di perusahaan (swasta atau BUMN/BUMD) adalah AKUNTAN MANAJEMEN (Management Accountant). Dilihat dari aspek “untuk kepentingan siapa bekerja,” IYA, mereka memang bekerja untuk kepentingan management, digaji oleh perusahaan, thus disebut akuntan manajemen (management accountant.)
Namun akan menjadi KELIRU jika anggapan itu kemudian diterjemahkan seolah-olah skill yang dibutuhkan untuk bekerja di perusahaan hanya akuntansi manajemen. Faktanya yang benar, skill “akuntansi keuangan” dan “akuntasi manajemen” sama-sama dibutuhkan—tergantung posisinya.
Di dalam perusahaan, ada akuntan yang pekerjaannya menangani pelaporan keuangan (thus menggunakan skill akuntansi keuangan) dan ada yang menangani pelaporan manajemen thus menggunakan skill akuntansi manajemen.
Di luar itu, ada juga anggapan yang menyebutkan bahwa mereka yang terspesialiasi ke Akuntansi Manajemen tidak bisa bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP). Faktanya, KAP itu bisnisnya terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu jasa ATESTASI (Assurance Services) yang khusus menangani Audit; dan jasa Konsultasi Bisnis (Trusted Business Advisory/TBA) yang khusus memberikan asistensi kepada perusahaan.
Para Auditor di KAP, YA, mereka Akuntan Publik yang independent—dalam artian tidak memihak perusahaan manapun, setidaknya secara teroritis dan aturan. Namun, mereka yang bekerja di divisi TBA-nya bersifat dependent, mereka bekerja untuk kepentingan manajemen perusahaan kliennya, sehingga sesungguhnya mereka adalah akuntan manajemen jika dilihat dari untuk siapa mereka bekerja.
Lalu, yang mana lebih cocok untuk anda?
Untuk menjawab pertanyaan ini sebaiknya kita lihat perbandingan antara “Akuntansi Keuangan” Vs “Akuntansi Manajemen” terlebih dahulu.

Perbandingan Akuntansi Manajemen Vs Akuntansi Keuangan

Berikut adalah perbandingannya, dilihat dari berbagai aspek:

1. Pengguna Utama Laporan:

a). Akuntansi Keuangan – Pengguna utama laporan yang dihasilkan oleh Akuntansi keuangan adalah pihak eksternal perusahaan. Pihak eksternal yang dimaksudkan di sini, yakni para pemegang saham, kreditur (institusi keuangan dan non-keuangan), dan regulator (Badan Pengawas Pasar Modal dan Direktorat Jenderal Pajak).
b). Akuntansi Manajemen – Seperti namanya, pengguna utama laporan yang dihasilkan oleh akuntansi manajemen adalah para pengelola perusahaaan yang terdiri dari para manajer dan eksekutif perusahaan yang lumrah disebut “management” saja.

2. Laporan Utama yang Disajikan:

a). Akuntansi Keuangan – Laporan utama yang disajikan oleh Akuntansi Keuangan selalu berupa “Laporan Keuangan” yang terdiri dari:
  • Neraca (Balance Sheet) – Laporan Keuangan yang menyajikan informasi mengenai posisi keuangan perusahaan hingga pada tanggal tertentu, misalnya 31 Desember 2013 (itu sebabnya PSAK saat ini memakai istilah “Lap Posisi Keuangan”.) Isinya: Aset, Liabilitas, Ekuitas Pemilik.
  • Laporan Laba Rugi (Profit and Lost Statement) – Laporan Keuangan yang menyajikan informasi mengenai hasil operasional perusahaan selama satu periode tertentu, misalnya 1 Januari s/d 31 Desember 2013, apakah membukukan laba atau rugi. Isinya: Pendapatan, Beban, Biaya, Laba/Rugi.
  • Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement) – Laporan Keuangan yang menyajikan informasi mengenai aliran kas perusahaan; darimana kas masuknya berasal dan digunakan untuk apa saja, selama satu periode tertentu, misalnya 1 Januari s/d 31 Desember 2013. Isinya: Kas dari Aktivitas Investasi, Kas dari Aktivitas Operasi, dan Kas dari Aktivitas Pendanaan.
b). Akuntansi Manajemen – Laporan utama yang disajikan oleh Akuntansi Manajemen beragam dan tidak sama antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain—tergantung jenis dan skala usahanya. Namun laporan-laporannya selalu berupa Laporan Internal, diantaranya berupa:
  • Laporan Kas (Cash Reports) – Laporan yang menyajikan posisi kas setiap hari atau minggu, perbandingan kas dengan forecast dan budget, perbandingan kas periode sebelumnya)
  • Laporan Status (Status Reports) – Laporan yang menyajikan kinerja keuangan dan operasional perusahaan per hari atau minggu. Memuat perbandingan antara kondisi sebenarnya yang sedang terjadi dengan budget dan forecast.
  • Laporan Gaji (Payroll Reports) –Laporan dapat memberi informasi, sampai per laporan dibuat, sudah berapa kewajiban gaji dan upah perusahaan terhadap pegawai per departemen, per orang. Sekaligus membandingkan data tersebut dengan budget dan forecast.
  • Laporan Penjualan dan Biaya (Sales and Expenses Reports) – Laporan yang menyajikan capaian penjualan sampai per tanggal laporan, sudah berapa persen yang tercapai dibandingkan dengan forecast dan budget. Data disajikan per customer (pelanggan) atau per nama marketer/salesman. Di sisi lainnya juga menyajikan biaya-biaya yang telah dikeluarkan hingga laporan yang telah dibuat, apakah masih dalam toleransi budget, bagaimana perbadingannya dengan forecast.
  • Laporan Cost (Cost Report) – Laporan yang menyajikan besaran beban yang timbul dari operasional perusahaan, pada kurun waktu tertentu (untuk cost center bisa jadi harian atau mingguan), tentu saja dilengkapi dengan hitung-hitungan dan analisa-analisa beban/cost yang sangat rinci, per department hingga per aktivitas. Tergantung teknik costing apa yang diterapkan, laporan ini dilengkapi dengan hitungan dan analisa-analisa pelengkap, misalnya berupa “Laporan Selisih” (Variance Report) jika perusahaan menerapkan “standard costing”.
  • Laporan Marjin (Margin Reports) – Laporan yang menyajikan informasi mengenai marjin (nilai penjualan dikurangi harga pokok penjualan) per jenis barang (item) dan per customer (pelanggan). Laporan ini juga dapat memberi gambaran mengenai barang mana saja yang sampai pada saat laporan dibuat mencetak marjin (laba kotor) tinggi, mana yang rendah, dengan pisah batas dan parameter tertentu. Juga, menyajikan informasi mengenai penjualan ke customer (pelanggan) mana yang memberi marjin tinggi, mana yang rendah.
  • Laporan Kapasitas (Capacity Reports) – Laporan ini khas untuk perusahaan berjenis manufaktur (industri/pabrikan). Laporan yang menyajikan kapasitas produksi perusahaan per bagian/divisi, hingga per satu nit mesin. Sekaligus menampilkan data, kapasitas mesin per tanggal laporan dibuat, berapa persen terisi. Sehingga secara kesuluruhan dapat diketahui mesin mana saja yang bekerja dengan kapasitas penuh dan mana yang tidak.

3. Cakupan Isi Laporan:

a). Akuntansi Keuangan – Cakupan isi “Laporan Keuangan” yang disajikan oleh Akuntansi Keuangan mencerminkan atau mewakili kondisi perusahaan (baca: entitas) secara keseluruhan. Pembaca Laporan Keuangan tidak bisa mengetahui berapa penjualan dari toko A, B, dan C, dari PT JAK misalnya, karena yang disajikan hanya total penjualan dari semua toko yang ada di bawah kendali PT. JAK. Demikian halnya dengan beban/biaya. Hal itu karena pengguna Laporan Keuangan memang tidak membutuhkan informasi sampai sejauh itu.
b). Akuntansi Manajemen – Cakupan isi “Laporan Internal” yang disajikan oleh Akuntansi Manajemen mencerminkan atau mewakili sampai ke subunit suatu entitas mulai dari per cabang, departemen, hingga ke aktivitas tertentu. Pengguna Laporan Internal, yaitu management perusahaan, bisa mengetahui kondisi perusahaan ke bagian operasional perusahaan yang paling kecil. Hal ini karena informasi tersebut memang diperlukan untuk proses pengambilan keputusan internal para pengelola perusahaan.

4. Tingkat Kerincian Laporan:

a). Akuntansi Keuangan – Laporan Keuangan yang disajikan oleh Akuntansi Keuangan bersifat general, global dan ringkas. Neraca misalnya, pada perusahaan kecil mungkin terdiri dari satu halaman saja, sedangkan pada perusahaan terbuka (TBK) yang paling besar mungkin maksimal hanya 4 halaman saja. Demikian halnya dengan Laporan Laba Rugi dan Laporan Arus Kas, semuanya disajikan serba ringkas.
b). Akuntansi Manajemen – Laporan Internal yang disajikan oleh Akuntansi Manajemen bersifat spesifik dan detail. Laporan Penjualan misalnya, mungkin bisa berpuluh atau ratus halaman; dilaporkan per customer, per lokasi outlet (retailer), per item barang, per warna, per size, dst. Tak jarang laporan-laporannya juga dilengkapi dengan diagram (chart) yang dirancang untuk manager yang lebih suka membaca laporan yang divisualisasikan.

5. Sumber Data Laporan:

a). Akuntansi Keuangan – Data yang digunakan untuk menyusun Laporan Keuangan seratus persen bersumber dari transaksi keuangan yang kemudian diinput dalam bentuk journal entry (debit-kredit).
b). Akuntansi Manajemen – Data yang digunakan untuk membuat Laporan Internal manajemen bersumber dari data apapun yang dianggap relevan dan terkait dengan kegiatan usaha, termasuk jurnal (debit-credit yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan.

6. Aturan Pengolahan Data dan Penyajian Laporan:

a). Akuntansi Keuangan – Dalam mengolah data dan menyajikan laporan, Akuntansi Keuangan secara tegas diwajibkan mengikuti konsep, prinsip dan postulat tertentu, yang tersandarisasi seperti tertuang dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Itu sebabnya, format laporan dan item dalam Laporan Keuangan selalu sama (setidaknya nyaris sama).
b). Akuntansi Manajemen – Patokan yang digunakan oleh Akuntansi Manajemen dalam mengolah data dan menyajikan laporan hanya AKURASI dan RELEVANSI-nya terhadap jenis keputusan manajemen perusahaan yang akan diambil—tidak ada aturan yang terstandarisasi. Itu sebabnya, format dan isi Lapotan Internal masing-masing perusahaan variatif.

7. Fungsi Pelaporan:

a). Akuntansi Keuangan – Pelaporan Keuangan oleh Akuntansi Keuangan dimaksudkan untuk tujuan yang bersifat umum dari pengguna laporan keuangan yang memiliki kepentingan berbeda-beda; pembagian dividend (pemegang saham), jual-beli saham dan sekuritas (trader), persetujuan kredit/funding (banker), partnership dan investasi (investor), perpajakan (DJP), dan regulasi pasar modal (Bappepam). Dalam pengertian, apapun kepentingan para pengguna, selalu disodori Laporan Keuangan yang format dan item dalam laporan keuangan yang selalu sama. Misalnya, Laporan Keuangan yang diberikan ke bank sama dengan yang dipublikasikan ke investor.
b). Akuntansi Manajemen – Pelaporan Internal oleh Akuntansi Manajemen dimaksudkan untuk kepentingan yang bisa jadi bersifat rutin (forecast dan budget misalnya), dan bisa jadi juga bersifat khusus dalam kasus yang sangat khusus—laporan kapasitas produksi karena perusahaan mengalami keterlambatan delivery misalnya, atau laporan penjualan yang dibutuhkan untuk perubahan strategi pemasaran misalnya, atau laporan analisa A/R dalam rangka melakukan revisi kebijakan kredit, dan lain sebagainya. Laporan yang diberikan kepada manager misalnya, tak sama dengan laporan yang disampaikan ke eksekutif, yang diserahkan ke manager produksi tidak sama dengan yang disampaikan ke manager pemasaran.

8. Waktu Pelaporan:

a). Akuntansi Keuangan – Penyampaian Laporan Keuangan oleh Akuntansi Keuangan dilakukan secara rutin dan terjadwal secara pasti (kwartal, semesteran, tahunan). Keterlambatan laporan bisa berakibat sanksi (misalnya terlambat menyampaikan laporan fiskal.)
b). Akuntansi Manajemen – Penyampaikan Laporan Internal oleh Akuntansi Manajemen ada yang dilakukan secara terjadwal, lebih banyak yang tak terjadwal, bisa sewaktu-waktu kapanpun dibutuhkan oleh pengguna (management perusahaan).

9. Penilai Kualitas Laporan:

a). Akuntansi Keuangan – Kualitas Laporan Keuangan tidak dinilai langsung oleh pengguna (pihak eksternal), melainkan diwakili oleh team auditor independent dari KAP tertentu melalui proses audit. Sepanjang team auditor independen menyatakan laporan keuangan handal dan bisa dipercaya, maka pihak eksternal juga akan berpendapat yang sama. Khusus Ditjen Pajak dan Bea Cukai, mereka memiliki team pemeriksa (auditor) sendiri dan hanya percaya kepada hasil penilaian mereka.
b). Akuntansi Manajemen – Yang menilai kualitas Laporan Internal adalah pengguna langsung (management perusahaan). Sepanjang laporan yang disajikan akurat dan bisa dijadikan input dalam proses pengambilan keputusan, maka laporan dianggap berkualitas. Yang agak sulit, masing-masing manajer perusahaan memiliki selera dan gaya analisa yang berbeda-beda, disamping kepentingan yang berbeda-beda (sesuai fungsi maisng-masing manager). Manajer A mungkin suka laporan yang super detail, manajer B mungkin pusing kalau melihat laporan yang terlalu detail.

10. Sertifiksi:

a). Akuntansi Keuangan – Sertifikasi khusus bagi mereka yang professional dalam Akuntansi Keuangan disebut “Certified Public Accountant” (CPA). Sertifikat diperoleh setelah memenuhi persyaratan tertentu dan lulusan ujian khusus.
b). Akuntansi Manajemen – Sertifikasi khusus bagi mereka yang professional dalam Akuntansi Manajemen disebut “Certified Management Accountant” (CMA). Sertifikat diperoleh setelah memenuhi persyaratan tertentu dan lulusan ujian khusus juga.
Jadi, mana yang lebih sesuai untuk saya, akuntansi keuangan atau manajemen?” mungkin ada yang berpikir demikian setelah membaca perbandingan di atas. Lanjut ke paragraph di bawah…

Mana Yang Lebih Sesuai Untuk Anda?

Ini pertanyaan yang sulit untuk dijawab, bisa menjadi sangat subyektif karena menyangkut preferensi dan selera yang sudah pasti berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.
Lagipula, menurut saya pribadi, sebagai seorang akuntan—terlepas dari karir apapun yang dipilih—harus menguasai keduanya dengan sangat baik. Seorang auditor yang bekerja di KAP misalnya, harus juga menguasai akuntansi manajemen dengan sangat baik. Sebaliknya, yang bekerja di dalam suatu perusahaan juga wajib menguasai Akuntansi Keuangan dengan tak kalah baiknya dibandingkan Akuntansi Manajemen.
Tetapi, IYA, ada kecenderungan-kecenderungan yang bisa membuat seorang akuntan merasa perlu lebih memperdalam ilmunya (baca: lebih terspesialisai) pada salahsatu diantara Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen. Buktinya, ada banyak akuntan yang bergelar spesialiasai “Certified Publik Accountant” (CPA) dan tak sedikit pula yang bergelar “Certified Management Accountant (CMA).
Untuk itu, sekedar gambaran kasar, akan saya coba memberi panduan umum.
Menggunakan perbandingan di atas, anda CENDERUNG lebih cocok terspesialisai ke:
A. Akuntansi Keuangan, jika:
  • Anda lebih suka pekerjaaan yang bersifat statis, konstan dan cenderung dari itu-ke-itu saja;
  • Anda lebih suka bekerja dengan waktu penyelesaian (deadline) yang telah diketahui sejak jauh-jauh hari;
  • Anda lebih suka bekerja dengan pedoman dan acuan yang serba pasti;
  • Anda lebih suka bekerja dalam suasana tenang dan sepi;
  • Anda lebih suka berada dalam tingkat kepastian (certainty) yang tinggi;
  • Anda lebih suka pada hal-hal yang berbau aturan dan standar;
  • Anda lebih suka ‘bermain’ di wilayah yang lebih sempit dan terfokus; dan
  • Anda lebih suka menonton film yang alur ceritanya tipikal dengan karakter tokoh yang bisa ditebak.
B. Akuntansi Manajemen, bila:
  • Anda lebih suka pekerjaaan yang bersifat dinamis, berubah dari waktu-ke-waktu, berfluktuasi dan variatif.
  • Tugas mendadak yang tingkat kompleksitasnya tak bisa diperkirakan adalah tantangan yang mengasikan bagi anda. Mengejar deadline dadakan yang nyaris mustahil adalah sensasi yang sangat anda nikmati.
  • Lebih menyukai fleksibilitas dalam bekerja. Aturan standar dan hukum yang serba kaku justru menjadi pembatas yang membuat anda merasa stress.
  • Tak masalah bekerja dalam suasana yang ramai dan hiruk-pikuk, justru keramaian adalah sesuatu yang lebih anda sukai.
  • Ketidakpastian (uncertainty) tak membuat anda merasa resah, anda bisa beradaptasi dan mudah membaur di tempat dan susasana yang bisa berubah sewaktu-waktu.
  • Anda lebih tertarik pada strategi-strategi bisnis dibandingkan menghafal standard dan pasal undang-undang;
  • Anda menginginkan ruang bermain yang lebih luas, kalau bisa yang tak terbatas; dan
  • Film jenis suspend adalah favorite anda.
Nah, kira-kira mana yang lebih cocok untuk anda?

Mana Yang Lebih Ampuh Untuk Menuju Ke Posisi Puncak?

Bicara PUNCAK, jadi ingat obrolan Pak Mario Teguh dengan host MTGW. Menurutnya:
Ukuran posisi puncak itu berbeda bagi masing-masing orang. Puncak si A mungkin dasar bagi si B. Dan dasar bagi si D mungkin puncak bagi si C.
Sangat setuju. Di ruang tak terbatas, ukuran puncak itu berbeda-beda, tergantung masing-masing orang:
  • Jika menjadi seorang Akuntan Manajemen di perusahaan adalah ukuran puncak bagi anda, maka skill Akuntansi Manajemen adalah yang paling diperlukan untuk bisa sampai di sana. Jika menjadi seorang Auditor di KAP adalah posisi puncak bagi anda, maka skill Akuntansi Keuangan juga bisa menjadi pengantar yang paling sesuai.
  • Namun jika menjadi Direktur Keuangan (CFO) di perusahaan atau Managing Partner di KAP adalah posisi puncak bagi anda, maka menguasai salahsatunya saja adalah tidak cukup.
Sedikit tentang pengalaman pribadi. Begitu lulus saya langsung bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) sehingga lebih banyak bekerja di wilayah Akuntansi Keuangan—praktis tak pernah menyentuh yang namanya “Laporan Internal” yang disajikan oleh Akuntansi Manajemen, bahkan melihat bentuknya pun belum pernah samasekali.
Namun, yang namanya nasib memanglah tak bisa ditebak; entah mengapa saya merasa jenuh setelah 5 tahun bekerja di KAP, akhirnya pindah ke perusahaan.
Pun demikian, ilmu dan pengalaman terspesialisasi di Akuntansi Keuangan selama jadi auditor di KAP juga sangat membantu ketika bekerja di dalam perusahaan, bahkan saya menduga itulah alasan utama mengapa saya langsung dipercaya sebagai Chief Accountant pertamakali bekerja di perusahaan.
Tak lama bekerja diperusahaan itu, saya pindah ke perusahaan lain. Bukan karena jenuh, tapi lebih karena ada tawaran dengan posisi—dan kompensasi—yang saat itu saya nilai lebih baik. Posisi yang baru di perusahaan baru memaksa saya untuk memperdalam Akuntansi Manajemen sekaligus Akuntansi Keuangan dan Keuangan (Finance).
Beberapa tahun berjibaku di di wilayah akuntansi (keuangan dan manajemen) serta keuangan, seiring pertumbuhan perusahaan, saya memperoleh promosi jabatan ke middle management. Namun sebelum itu saya harus masuk internship di kantor pusatnya di luar negeri sana.
Merasa banyak waktu luang di sana, sayapun memutuskan untuk mengambil program study yang samasekali keluar dari Akuntansi Manajemen, yaitu Bisnis. Naluri saya mengatakan, saya harus paham seluk-beluk bisnis jika ingin terus berkembang di wilayah ini.
Namun, sekalilagi, saya tak mau melupakan asal-muasal saya sebagai orang akuntansi keuangan, saya tidak mau pengalaman bekerja di KAP terlupakan begitu saja. Saya tak mau kehilangan pengetahuan tentang standar akuntansi dan UU pajak. Saya berharap bisa mendayagunakannya sewaktu-waktu bila saya perlukan. Saya tidak mau bilang “iya, iya, iya” kepada bawahan hanya karena saya tak cukup update di akuntansi.
Itulah yang membuat saya memutuskan untuk mengambil program persiapan untuk ikut ujian CPA sembari menyelesaikan sekolah bisnis, lalu dilanjutkan dengan ikut ujian dan sukurnya lulus. Karena memang saya melihat keduanya sama-sama penting. Dan ternyata naluri saya tak jauh meleset.
Di posisi management—baik di awal, middle maupun eksekutif—menjadi seorang yang mampu bolak-balik memainkan peran specialist dan generalist di ruang dan waktu bersamaan secara taktis adalah keistimewaan, keunggulan sekaligus keberuntungan (berkah).
Jika anda menjadi seorang Direktur Keuangan (Chief Financial Officer) misalnya, anda dituntut untuk mampu mengawasi Chief Accountant sekaligus Manager Keuangan, Internal Auditor sekaligus Risk Manager, Treasurer sekaligus Controller. Bahkan anda juga diharapkan menguasai Sistim Informasi Akuntansi (SIA) sekaligus Sistim Informasi Manajemen (SIM), karena harus mengawasi IT dan HRD. Bagaimana anda mampu menjalankan fungsi ini jika tidak jago di akuntansi keuangan sekaligus akuntansi manajemen? Bagaimana bisa menjalankan fungsi dengan efektif jika tak menguasai prosedur audit, risk management, sekaligus system?
Dan, jika suatu saat nanti anda berkesempatan menjadi pimpinan di  Kantor Akuntan Publik, mungkin anda juga dituntut untuk mampu mengendalikan Divisi Assurance Services (yang dihuni oleh orang-orang Akuntansi Keuangan) dan Trusted Business Advisory (yang dihuni oleh orang-orang Akuntansi manajemen sekaligus Akuntansi Pajak).
Yang ingin saya sampaikan melalui cerita di atas (sekaligus rekomendasi) adalah:
  • Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen sama-sama penting;
  • Keduanya tidak saling bertolak-belakang, bukan untuk dipertentangan, melainkan saling mengisi dan saling melengkapi;
  • Gabungan keduanya akan menjadi ilmu akuntansi yang utuh dan bisa memberi impact yang besar bagi organisasi dimana kita bekerja; dan
  • Memandang salahsatunya lebih penting sementara meremehkan yang lainnya adalah kekeliruan, foolish.
Terspesialiasi di awal-awal adalah bagian dari proses yang alamai, tidak apa-apa, sebab tidak semua orang mampu menguasainya secara sekaligus, butuh waktu yang panjang untuk itu. Jika beruntung dan memang ditakdirkan demikian, akan ada masanya anda harus menguasai kedua spesialisasi ini (akuntan manajemen dan akuntansi keuangan) dan mampu mendayagunakannya secara bersamaan. Selamat berakhir pekan.

Sumber: jurnalakuntansikeuangan.com

Apa Itu Analisis Break Even Point

Analisis Break Even Point
Apa Itu Analisis Break Even Point - Break event point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung maupun rugi/ impas (penghasilan = total biaya)

Berikut adalah pengertian - pengertian Break Even Point menurut para ahli:
  1. Menurut S. Munawir (2002) Titik break even point atau titik pulang pokok dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana dalam operasinya perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi (total penghasilan = Total biaya).
  2. Menurut Abdullah (2004) Analisis Break even point disebut juga Cost Volume Profit Analysis. Arti penting analisis break even point bagi menejer perusahaan dalam pengambilan keputusan keuangan adalah sebagai berikut, yaitu :
    • Guna menetapkan jumlah minimal yang harus diproduksi agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
    • Penetapan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba tertentu.
    • Penetapan seberapa jauhkan menurunnya penjualan bisa ditolerir agar perusahaan tidak menderita rugi.
  3. Menurut Purba (2002) Titik impas (break even) berlandaskan pada pernyataan sedarhana, berapa besarnya unit produksi yang harus dijual untuk menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut.
  4. Menurut PS. Djarwanto (2002) Break even point adalah suatu keadaan impas yaitu apabila telah disusun perhitungan laba dan rugi suatu periode tertentu, perusahaan tersebut tidak mendapat keuntungan dan sebaliknya tidak menderita kerugian.
  5. Menurut Harahap (2004) Break even point berarti suatu keadaan dimana perusahaan tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi ini dapat ditutupi oleh penghasilan penjualan. Total biaya (biaya tetap dan biaya variabel) sama dengan total penjualan sehingga tidak ada laba tidak ada rugi.
  6. Menurut Garrison dan Noreen (2004) Break even point adalah tingkat penjualan yang diperlukan untuk menutupi semua biaya operasional, dimana break even tersebut laba sebelum bunga dan pajak sama dengan nol (0). Langkah pertama untuk menentukan break even adalah membagi harga pokok penjualan (HPP) dan biaya operasi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya Tetap merupakan fungsi dari waktu, bukan fungsi dari jumlah penjualan dan biasanya ditetapkan berdasarkan kontrak, misalnya sewa gudang. Sedangkan biaya variabel tergantung langsung dengan penjualan, bukan fungsi dari waktu, misalnya biaya angkut barang.

Manfaat BEP antara lain:
  • Alat perencanaan untuk hasilkan laba
  • Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.
  • Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan
  • Mengganti system laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti

Komponen yang berperan pada BEP yaitu biaya, biaya yang dimaksud adalah biaya variabel dan biaya tetap, dimana pada prakteknya untuk memisahkannya atau menentukan suatu biaya itu biaya variabel atau tetap bukanlah pekerjaan yang mudah, Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh kita untuk produksi ataupun tidak, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produksi jadi kalau tidak produksi maka tidak ada biaya ini.

Salah satu tujuan perusahaan adalah mencapai laba atau keuntungan sesuai dengan pertumbuhan perusahaan. Untuk mencapai laba yang semaksimal mungkin dapat dilakukan dengan tiga langkah sebagai berikut, yaitu :
  1. Menekan biaya produksi maupun biaya operasional serendah-rendahnya dengan mempertahankan tingkat harga, kualitas dan kunatitas.
  2. Menentukan harga dengan sedemikian rupa sesuai dengan laba yang dikehendaki.
  3. Meningkatkan volume kegitan semaksimal mungkin.

Kegunaan Break Even Point
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa analisa break even point sangat penting bagi pimpinan perusahaan untuk mengetahui pada tingkat produksi berapa jumlah biaya akan sama dengan jumlah penjualan atau dengan kata lain dengan mengetahui break even point kita akan mengetahui hubungan antara penjualan, produksi, harga jual, biaya, rugi atau laba, sehingga memudahkan bagi pimpinan untuk mengambil kebijaksanaan.

Analisis Break Even Point berguna apabila beberapa asumsi dasar dipenuhui. Asumsi-asumsi tersebut adalah :
  1. Biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dikelompokan dalam biaya variabel dan biaya tetap.
  2. Besarnya biaya variabel secara total berubah-ubah secara proporsional dengan volume produksi atau penjualan. Ini berarti bahwa biaya variabel per unitnya adalah tetap.
  3. Besarnya biaya tetap secara total tidak berubah meskipun ada perubahan volume produksi atau penjualan. Ini berarti bahwa biaya tetap per unitnya berubah-ubah karena adanya perubahan volume kegiatan.
  4. Jumlah unit produk yang terjual sama dengan jumlah per unit produk yang diproduksi.
  5. Harga jual produk per unit tidak berubah dalam periode tertentu.
  6. Perusahaan hanya memproduksi satu jenis produk, apabila lebih dari satu jenis komposisi masing-masing jenis produk dianggap konstan (tetap).

Analisa break even point juga dapat digunakan oleh pihak menejemen perusahaan dalam berbagai pengambilan keputusan, antara lain mengenai :
  1. Jumlah minimal produk yang harus terjual agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
  2. Jumlah penjualan yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
  3. Besarnya penyimpanan penjualan berupa penurunan volume yang terjual agar perusahaan tidak menderita kerugian.
  4. Untuk mengetahui efek perubahan harga jual, biaya maupun volume penjualan terhadap laba yang diperoleh.

Break even point juga dapat digunakan dengan dalam tiga cara terpisah, namun ketiganya saling berhubungan, yaitu untuk :
  1. Menganalisa program otomatisasi dimana suatu perusahaan akan beroperasi secara lebih mekanis dan otomatis dan mengganti biaya variabel dengan biaya tetap.
  2. Menelaah impak dari perluasan tingkat operasi secara umum.
  3. Untuk membuat keputusan tentang produk baru yang harus dicapai jika perusahaan menginginkan break even point dalam suatu proyek yang diusulkan.

Kita dapat menggunakan rumus untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:
  1. Hubungan antara penjualan biaya dan laba.
  2. Untuk mengetahui struktur biaya tetap dan biaya variabel.
  3. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana perusahaan tidak mengalami laba dan rugi.
  4. Untuk mengetahui hubungan antara cost, volume, harga dan laba.

Analisa break even point memberikan penerapan yang luas untuk menguji tindakan-tindakan yang diusulkan dalam mempertimbangkan alternatif-alternatif atau tujuan pengambilan keputusan yang lain. Analisa break even point tidak hanya semata-mata untuk mengetahui keadaan perusahaan yang break even saja, akan tetapi analisa break even point mampu memeberikan informasi kepada pimpinan perusahaan mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungan dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.

Kelemahan Analisa Break Even Point
Sekalipun Analisa break even ini banyak digunakan oleh perusahaan, tetapi tidak dapat dilupakan bahwa analisa ini mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan utama dari analisa break even point ini antara lain : asumsi tentang linearity, kliasifikasi cost dan penggunaannya terbatas untuk jangka waktu yang pendek.

Pengertian Akuntansi Biaya Menurut Para Ahli

Pengertian Akuntansi Biaya Menurut Para Ahli - Perusahaan yang mengolah bahan baku untuk menghasilkan barang jadi memerlukan prosedur serta pencatatan tentang proses produksi yang mengolah bahan-bahan tersebut. Pemakaian bahan untuk proses produksi perhitungan biaya produksi untuk menilai persediaan barang jadi ataupun barang setengah jadi dan persediaan bahan yang sedang diproses tetapi belum selesai, kesemuanya ini termasuk dalam bidang akuntansi biaya.

Akuntansi biaya biasanya hanya dianggap berlaku untuk operasi pabrikase, namun dalam dunia ekonomi dewasa ini setiap jenis organisasi dari berbagai ukuran dapat mengambil manfaat dari penggunaan konsep dan teknik akuntansi biaya. Dalam hal ini penulis hanya menerapkan akuntansi biaya sesuai dengan judul skripsi yang ditulis dalam memecahkan suatu masalah-masalah yang terjadi di lapangan.

Akuntansi biaya juga dapat diartikan sebagai kunci atau alat yang penting guna membantu manajemen dalam melakukan pertimbangan, perencanaan, pengawasan serta sebagai penilaian terhadap kegiatan perusahaan.

Berikut adalah Pengertian Akuntansi Biaya Menurut Ahli:
  • Menurut Mulyadi bahwa pengertian Akuntansi Biaya ialah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk jasa dengan cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya.
  • Menurut Matz Usry pengertian Akuntansi Biaya adalah “Cost accounting sometime call management accounting, should be considered the key managerial partner, furnishing management with the necessary accounting tools to plan and control activities.”
  • Kemudian pengertian Akuntansi Biaya menurut Abdul Halim mengemukakan bahwa definisi akuntansi biaya adalah “Akuntansi biaya adalah akuntansi yang membicarakan tentang penentuan harga pokok (cost) dari suatu produk yang diproduksi (atau dijual di pasar) baik untuk memenuhi pesanan dan pemesan maupun untuk menjadi persediaan barang dagangan. yang akan dijual.”
  • Selanjutnya dikemukakan pula definisi akuntansi biaya menurut R. A. Supriyono dalam bukunya Akuntansi Biaya, bahwa Akuntansi biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang merupakan alat manajemen untuk memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis serta menyajikan informasi biaya dalam bentuk laporan biaya.
Jadi pengertian akuntansi biaya merupakan penentuan harga pokok suatu produk dengan melakukan suatu proses pencatatan, penggolongan dan penyajian transaksi biaya secara sistematis serta menyajikan informasi biaya dalam bentuk laporan biaya.

Daftar rujukan pengertian akuntansi biaya
Mulyadi, Akuntansi Biaya, Edisi ke-5, BP-STIE YKPN, Yogyakarta, 1993
Adolph Matz and Milton F .Usry, Cost Accounting Planning and Control, Eight Edition, South Western Publishing.Co. Ohio, 1997
Abdul Halim, Dasar-dasar Akuntansi Biaya, Edisi Keempat, Cetakan Ketiga, BPFE-Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1999
R. A. Supriyono, Akuntansi Biaya : Pengumpulan Biaya dan Penentuan Harga Pokok, Buku I, Edisi Ke-2, BPFE-UGM, Yogyakarta, 1994,

Demikianlah pengertian akuntansi biaya, semoga bermanfaat

Menafsirkan Piutang Tak Tertagih

Menafsirkan Piutang Tak Tertagih
Menafsirkan Piutang Tak Tertagih - Penafsiran dilakukan untuk mengantisipasi tidak tertagihnya piutang dagang dimasa akan datang akibatpenjualan sekarang, untuk dibebankan sebagai periode yang bersangkutan. Taksiran piutang tak tertagih ditentukan setiap akhir periode. Dasar yang digunakan dalam menafsir piutang tak tertagih dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:

2 Metode Pencatatan Piutang

2 Metode Pencatatan Piutang, sebagai berikut:


A. Gross Method (Method Kotor)
Piutang diakui/dicatat sebesar penjualan tanpa dipengaruhi oleh potongan yang akan diberikan . Preosedure dan pembukuanya sbb:
1.   Pada saat terjadi penjualan barang/jasa secara kredit
A/R                              100%
                                    Sales                            100%
2.   Pelunasan piutang belum jatuh tempo
Cash                98%
Sales Discount               2%
A/R                              100%
3.   Pelunasan piutang sudah jatuh tempo
Cash                100%
A/R                              100%
B. Net Methode (Metode Bersih)
1.   Pada saat penjualan barang/jasa secara kredit
A/R                              98%
Sales                98%
2.   Pelunasan piutang belum jatuh tempo
Cash                98%
A/R                              98%
3.   Pelunasan piutang sudah jatuh tempo
a.   A/R                                            2%
Sales Discount ForFeited                     2%
b.   Cash                                           100%
A/R                                                      100%
c.   Cash                                           100%
Sales Discount. F                                 2%
A/R                                                      98%

Catatan : 

  • Sales discount For Faited dianggap sebagai other income atau penghasilan diluar usaha. 
  • Agar dapat diketahui jumlah yang diharapkan dapat ditagih, seharusnya potongan-potongan yang diberikan tersebut juga dikurangkan juga pada piutang dalam neraca. 
  • Jumlah sales discount yang akan terjadi, pada other periode akuntansi harus dihitung. Pencatatan potongan penjualan yang diharapkan akan terjadi dibebankan ke rekening sales discount dan rekening Allowance for sales discount.

Peran Akuntan dalam Sistem Informasi Akuntansi

Peran Akuntan dalam Sistem Informasi Akuntansi
Akuntan  memiliki  banyak  peran  penting  dalam  sebuah  Sistem Informasi  Akuntansi.  Berbagai  macam  peran  yang  dapat dikerjakan seorang akuntan. Peran akuntan menjadi tiga golongan yaitu:

Pengertian Piutang Menurut Para Ahli

Berikut ini adalah beberapa pengertian-definisi piutang menurut para ahli :

Disposisi Aktiva Tetap



Aktiva dapat dihentikan penggunaanya melalui :
a.       Penjualan ( sales )
b.      Pertukaran (exchange )
c.       Dihapus karena tidak dapat dipakai lagi ( disposal )
d.      Rusak karena kecelakaan ( destruction )

Perolehan Aktiva Tetap


Aktiva Tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara yang akan mempengaruhi harga perolehan,antara lain :

Soal-Soal Aktiva Tetap Akuntansi Keuangan

  1. Apa yang dimaksud dengan aktiva tetap?
  2. Apa yang dimaksud dengan disposisi aktiva tetap?
  3. Bagaimana caranya mencatat perolehan aktiva tetap dan contohnya?
  4. Bagaimana pencatatan pada saat aktiva tetap tersebut tidak digunakan lagi baik karena dijual, ditukar, rusak, dan kecelakaan? Contohnya?
  5. Ada berapa metode penyusutan aktiva tetap?

Prosedur Analisis Laporan Keuangan

Bagaimana prosedur analisis laporan keuangan? Berbagai langkah harus ditempuh dalam menganalisis laporan keuangan. Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh menurut Darsono dan Ashari (2005:53) menyatakan bahwa: 

Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan

Laporan keuangan dipersiapkan atau dibuat dengan maksud untuk memberikan gambaran atau laporan kemajuan (Progress Report) secara periodik yang dilakukan pihak manajemen yang bersangkutan. Menurut Munawir. S (2002:6) menyatakan bahwa ; 
“Laporan  keuangan  tersebut  bersifat  historis  dan  sebagai  suatu
progress report laporan keuangan."

Karateristik Laporan Keuangan Menurut PSAK

Ini dia Karateristik Laporan Keuangan Menurut Ahli, Karakteristik kualitatif laporan keuangan merupakan ciri khas membuat informasi dalam laporan keuangan tersebut berguna bagi para pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Karakteristik kualitatif keuangan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia melalui PSAK No 1 (2007:7) adalah:
a.  Dapat dipahami
b.  Relevan
c.  Keandalan
d.  Dapat dibandingkan

Perbedaan Penyusunan Arus Kas Metode Langsung dan Tidak Langsung

Perbedaan Penyusunan Arus Kas Metode Langsung dan Tidak Langsung - Ada 2 bentuk dalam penyajian laporan arus kas yaitu sebagai berikut:
 1. Direct method (Metode langsung)
Dalam metode ini pelaporan arus kas dilakukan dengan cara melaporkan kelompok-kelompok penerimaan kas dan pengeluaran kas dari kegiatan operasi secara lengkap (gross) dan baru dilanjutkan dengan kegiatan investasi dan pembiayaan. Keunggulan utama dari metode langsung ini adalah bahwa metode ini melaporkan sumber dan penggunaan kas dalam laporan arus kas. Kelemahan utamanya adalah bahwa data yang dibutuhkan seringkali tidak mudah di dapat dan biaya pengumpulannya umumnya mahal. Metode Langsung menggolongkan berbagai kategori utama dari kegiatan operasi. Metode langsung lebih mudah untuk dimengerti, dan memberikan informasi yang lebih banyak untuk mengambil keputusan.

2. Indirect method (Metode tidak langsung)
Dalam metode ini net income disesuaikan (reconcicle) dengan menghilangkan:
  • Pengaruh transaksi yang masih belum di realisasi (defferal) dari arus kas masuk dan keluar dari transaksi yang lalu seperti perubahan jumlah persediaan defferal income, arus kas masuk dan keluar dari transaksi yang accured seperti piutang dan utang.
  • Pengaruh perkiraan yang terdapat dalam kelompok investasi dan pembiayaan yang tidak mempengaruhi kas seperti : penyusutan, amortisasi, laba rugi dari penjualan aktiva tetap dan dari operasi yang dihentikan (yang berkaitan dengan kegiatan investasi), laba rugi pembatalan utang (transaksi pembagian)
Keunggulan dalam metode ini adalah memusatkan pada perbedaan antara laba bersih dan arus kas dari aktivitas operasi. Dalam hal ini, metode tersebut menunjukan hubungan antara laporan laba rugi, neraca dan laporan arus kas.

Karena datanya dapat tersedia dengan segera, maka metode ini lebih murah dibandingkan dengan metode langsung. Penyusunan laporan arus kas dengan menggunakan metode ini diawali dengan laba bersih dan menyesuaikan laba bersih tersebut sehingga diperoleh arus kas dari aktivitas operasi.

Kedua metode tersebut mendatangkan jumlah sub-total yang sama untuk kegiatan operasi, kegiatan investasi, kegiatan pendanaan dan arus kas bersih selama periode tertentu. Metode tersebut berbeda hanya dalam cara menunjukkan arus kas dari kegiatan operasi.
Penyusunan anggaran kas, menurut Riyanto (1978 : 90), dapat dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut:
  1. Menyusun estimasi penerimaan dan pengeluaran menurut rencana operasional perusahaan. Transaksi-transaksi di sini merupakan transaksi operasi (operating transactions). Pada tahap ini dapat diketahui adanya defisit (kekurangan) kas atau surplus (kelebihan) kas.
  2. Menyusun perkiraan atau estimasi kebutuhan dana atau kredit dari bank atau sumber-sumber lainnya yang diperlukan untuk menutup defisit kas. Juga disusun estimasi pembayaran bunga kredit tersebut beserta waktu pembayarannya kembali. Transaksi-transaksi di sini merupakan transaksi finansiil (financial transaction).
  3. Menyusun kembali estimasi keseluruhan penerimaan dan pengeluaran setelah adanya transaksi finansiil. Anggaran kas yang final ini merupakan gabungan dari transaksi operasional dan transaksi finansiil yang menggambarkan estimasi penerimaan dan pengeluaran kas keseluruhan
Perbedaan utama dari 2 metode penyusunan cashflow adalah :
Metode Langsung
> Laporan Cashflow disusun dari buku kas/bank
> Karena disusun berdasarkan buku kas, pada saat pencatatan setiap transaksi kas, harus langsung digolongkan dalam ke-3 jenis aktivitas. Tujuannya untuk mempermudah penyusunan.
Metode Tidak Langsung
> Laporan Cashflow disusun dari LaporanKEUANGAN (Neraca & LR)
> Tidak diperlukan penggolongan pada setiap transaksi kas. Pengelompokan aktivitas transaksi disusun berdasarkan akun/rekening dalam laporan Keuangan.

Dalam penulisan mohon maaf bila ada kesalahan, silahkan berkomentar kritik dan sarannya. terimakasih :)

Pengertian Laporan Keuangan Arus Kas

Pengertian Laporan Keuangan Arus Kas - Arus kas (cash flow) adalah suatu laporan keuangan yang berisikan pengaruh kas dari kegiatan operasi, kegiatan transaksi investasi dan kegiatan transaksi pembiayaan/pendanaan serta kenaikan atau penurunan bersih dalam kas suatu perusahaan selama satu periode.

Contoh Laporan Kerja Praktek

Contoh Laporan Kerja Praktek - Di dalam perkuliahan ada yang namanya kuliah kerja praktek. sebelum membuat laporan awalnya kita harus melakukan kerja praktek dulu di perusahaan yang kalian akan ambil. Lalu setelah Kerja Praktek kurang lebih 24 hari akan membuat laporan kerja praktek. Nah ini adalah contoh laporan kerja praktek yang telah dibuat sebelumnya oleh kaka-kakak dari UNIKOM:

SAK Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP)

Ikatan Akuntan Indonesia telah menerbitkan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK-ETAP). SAK ETAP ini berlaku secara efektif untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011. Penerapan dini diperkenankan.

SAK yang berbasis IFRS (SAK Umum) ditujukan bagi entitas yang mempunyai tanggung jawab publik signifikan dan entitas yang banyak melakukan kegiatan lintas negara. SAK umum tersebut rumit untuk dipahami serta diterapkan bagi sebagain besar entitas usaha di Indonesia yang berskala kecil dan menengah. Dalam beberapa hal SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk suatu entitas dibandingkan dengan SAK Umum dengan ketentuan pelaporan yang lebih kompleks.

PSAK VS SAK ETAP

Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 17 Juli 2009 yang lalu, telah menerbitkan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK-ETAP) atau atau The Indonesian Accounting Standards for Non-Publicly-Accountable Entities, dan telah disahkan oleh DSAK IAI pada tanggal 19 Mei 2009. Dewan tandar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) sendiri beranggotakan 17 orang mewakili: Akuntan Publik, Akademisi, Akuntan Sektor Publik, dan Akuntan Manajemen. Alasan IAI menerbitkan standar ini adalah untuk mempermudah perusahaan kecil dan menengah (UKM) (yang jumlahnya hampir dari 90% dari total perusahaan di Indonesia) dalam menyusun laporan keuangan mereka. Dimana jikalau standar ini tidak diterbitkan mereka juga harus mengikuti SAK baru (yang merupakan SAK yang sedang dalam tahap pengadopsian IFRS – konvergensi penuh tahun 2012) untuk menyusun laporan keuangan mereka. SAK berbasis IFRS ini relatif lebih kompleks dan sangat mahal bagi perusahaan kecil dan menengah untuk menerapkannya.

Standar Akuntansi di Indonesia

Standar Akuntansi di Indonesia kini berkembang menjadi 4 (empat) seturut dengan perkembangan dunia usaha. Empat pilar standar itu adalah:
1. STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (SAK)
SAK digunakan untuk entitas yang memiliki akuntanbilitas publik, yaitu entitas terdaftar atau dalam proses pendaftaran di pasar modal atau entitas fidusia (entitas yang menggunakan dana masyarakat, seperti asuransi, perbankan dan dana pensiun)

 2. STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK (SAK ETAP)
SAK ETAP digunakan untuk entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan dalam menyusun laporan keuangan untuk tujuan umum.

Penyusutan Aktiva Tetap

kereta-api
Pada PT. Kereta Api (persero) Daop 2 Bandung penyusutan aktiva tetap dihitung berdasarkan umur ekonomisnya dengan menggunakan metode garis lurus (straight line method) yaitu dengan persentase tetap (tarif yang digunakan setiap tahunnya tetap) dari nilai perolehannya kecuali tanah dan aktiva tetap dalam proses yang tidak disusutkan, dan aktiva tetap yang telah habis umur ekonomisnya tetapi masih digunakan dalam operasi perusahaan karena tidak perlu disusutkan lagi.